Template Presentasi Skripsi Powerpoint 468x60
PayTrenCommunity.com | paytren yusuf mansur | bisnis paytren | paytren adalah | daftar paytren | paytren aplikasi

Sabtu, 21 Mei 2016

Fakta dan Mitos Seputar Mahapatih Gajah Mada

Maha Patih Gajah Mada
Gajah Mada dikenal sebagai patih terbesar Kerajaan Majapahit, suatu kerajaan bercorak Hindu-Budha yang terbesar pada abad ke-14 hingga ke-15. Dalam buku yang ditulis oleh Agus Aris Munandar berjudul Gajah Mada: Biografi Politik (2010), disebutkan beberapa peran Gajah Mada yang juga memuat beberapa fakta perihal Gajah Mada yang belum diketahui publik.

Berikut fakta dan mitos tersebut :

1. Mitos kelahiran Gajah Mada 

Kisah kelahiran Gajah Mada penuh dengan mitos untuk melegitimasi kedudukannya sebagai orang besar. Kitab Usana Jawa menyebutkan Gajah Mada lahir begitu saja dari buah kelapa. Di lain pihak, Babad Gajah Mada mengatakan Gajah Mada merupakan anak dari Dewa Brahma (salah satu dari tiga dewa utama kaum Hindu) dengan istri seorang pendeta muda bernama Mpu Sura Dharma Yogi. Setelah dewasa, Gajah Mada diambil oleh Mahapatih Majapahit untuk mengabdi kepada raja. Kisah-kisah yang berbau supranatural ini jamak tercatat dalam babad-babad tanah Jawa dengan tujuan kelahiran Gajah Mada sudah direstui kekuatan adi kodrati. Dengan kata lain, proses kelahirannya sudah menandakan Gajah Mada ditakdirkan menjadi orang yang terkenal atau disegani.

2. Gajah Mada bukan nama asli 

Babad Arung Bondan menyatakan Gajah Mada adalah anak seorang patih Majapahit. Agus Aris Munandar menduga Gajah Mada merupakan anak Gajah Pagon, pengawal setia Raden Wijaya, pendiri sekaligus raja pertama Majapahit yang membuka hutan Tarik sebagai cikal bakal kerajaan. Kitab Pararaton menyebut kedua orang itu berwatak sama, yakni pemberani, tahan mental, tidak mudah menyerah, setia kepada tuannya, dan berperilaku seperti hewan gajah yang dapat menghadapi semua penghalang. Kata “gajah” mengacu pada hewan yang dalam mitologi Hindu dipercaya sebagai vahana (hewan tunggangan) Dewa Indra. Gajah milik Indra dinamai Airavata. Sementara “mada” dalam bahasa Jawa Kuno berarti ‘mabuk’. Maka, bisa dibayangkan jika seekor gajah tengah mabuk, ia akan berjalan seenaknya, beringas, dan menerabas segala rintangan. Sepertinya itu nama yang cocok dan sudah dipikirkan betul-betul sebelum diberikan kepada Gajah Mada.

3. Gajah Mada dan Pasukan Bhayangkara 

Seperti kebiasaan masyarakat Hindu, seorang anak akan dilepas untuk berguru kira-kira 12 tahun lamanya. Setelah itu, ia akan mengabdikan dirinya untuk raja dan masyarakat. Gajah Mada yang sudah dibekali ilmu kewiraan bertugas dalam satuan khusus pengawal raja. Pasukan ini dinamai Bhayangkara, dari bahasa Sansekerta yang berarti “hebat dan menakutkan”. Istilah itu termaktub dalam dua kata Jawa kuno, yakni bhaya yang berarti ‘bahaya, atau berbahaya, menakutkan,’ sementara angkara dari kata ahangkara yang berarti ‘aku’ atau ‘kami’. Maka istilah bhayangkara dapat diartikan sebagai ‘kami [yang] menakutkan’. Dalam pasukan Bhayangkara inilah pengabdian dan prestasi Gajah Mada dibangun untuk menjaga Kerajaan Majapahit.

Dalam Kitab Pararaton disebutkan Gajah Mada mengiringi Raja Jayanegara mengungsi ke Desa Badander saat terjadi pemberontakan oleh Kuti. Menariknya, saat Jayanegara dibunuh oleh tabib Tanca, Gajah Mada diisukan mengatur pembunuhan itu.  Konon, ia tak suka pada kelakuan Raja Jayanegara yang sudah melanggar perundang-undangan kerajaan lantaran menggauli istri orang. Perbuatan tersebut adalah hal yang nista karena dalam kitab Kutaramanawardharmasastra disebutkan hukuman bagi orang yang mengganggu perempuan yang telah bersuami cukup berat.


0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com tipscantiknya.com